Geliat Musik Metal di Indonesia

Di Indonesia, musik “Metal” atau yang sering disebut musik beraliran keras, bisa dikatakan sebagai musik yang bergerak di bawah tanah dan lazim disebut musik underground. bagaimana tidak, band-band metal selalu dikesampingakan sebagai band biang kerusuhan, keonaran, berisik, lirik yang kasar, dll.

Tetapi sejatinya tidaklah demikian. walaupun musik metal berisik, tetapi tetap mengikuti progresi nada-nada yang layak untuk dinikmati. dan lirik-lirik yang disuarakan merupakan bentuk ekspresi yang wajar dan jujur. kritik sosial, politik, tentang Tuhan, cinta, dan makna-makna yang sesungguhnya sangat menyntuk jika disimak.

Produser musik seolah enggan untuk mengorbitkan band-band metal. mereka takut tidak akan meraih keuntungan atau bahkan merugi karena band-band yang membawakan musik metal tidak ada nilai komersilnya. maka tak heran band-band metal selalu bergerak sendiri (Independent) untuk memproduseri dan mempromosikan lagu-lagu yang dibawakannya.

Memang harus diakui, band-band metal di indonesia “Relatif” susah untuk meraih simpati masyarakat luas pecinta musik. karena biasanya musik mereka hanya didengarkan oleh orang-orang tertentu (segmented) yang mempunyai selera dan mengerti musik metal sesungguhnya.

Tetapi lihatlah band-band metal di luar negeri (Amerika khususnya) yang sangat bebas memainkan musik mereka namun tetap laris dari sisi komersilnya. Slipknot adalah contohnya. bagaimana band ini sangat dipuja oleh pecinta musik dunia termasuk ndonesia, walaupun musik mereka “sama berisiknya” dengan band-band metal lainnya.

Yah, itu kan d amerika mas… indonesia kan beda.

Tetapi, akhir-akhir ini, band-band metal di indonesia mulai menggeliat dan “muncul dari bawah” tanah untuk meramaikan persainagan dengan band-band mainstream di indonesia… Koil, Burger Kill, Tengkorak, adalah beberapa band metal indonesia yang mulai mendapat apresiasi pecinta musik indonesia secara luas…

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Jakarta, ibukota dan kota terbesar, tenggelam oleh kecepatan 10 cm per tahun

Jakarta, ibukota dan kota terbesar, tenggelam oleh kecepatan 10 cm per tahun, sebuah studi baru-baru ini telah ditemukan. Penyebab utama fenomena ini, yang telah terbukti dalam beberapa tahun terakhir oleh beberapa banjir besar, ekstraksi tanah eksplorasi air tanah dan luas karena tekanan dari bangunan bertingkat tinggi, yang mendorong kota ini menjadi tabel air yang mendasarinya. "Tanah itu sudah tenggelam untuk waktu yang lama, dan garis pantai sekarang menembus jantung kota," kata seorang peneliti dari Institut Teknologi Bandung geodynamics, Irwan Gumilar, The Jakarta Post. Irwan adalah anggota dari sebuah tim riset yang dipimpin oleh Profesor Hasanuddin Z Abidin, yang dipantau Jakarta 1997-2009. "Hanya sedikit orang yang bisa menyadari bahwa tanah itu terendam 10-12 cm per tahun," kata Irwan.

Tingkat tertinggi subsidence telah dicatat di daerah pesisir di Jakarta Utara, termasuk Kapuk Muara dan Ancol, di mana pengembangan yang ekstensif telah meningkatkan tekanan pada tanah dalam yang relatif muda dan berpori. Dia mengatakan bahwa selain dari faktor buatan, seperti eksploitasi air tanah dan pengembangan agresif, tanah di daerah ini sudah tenggelam karena faktor alam, termasuk pemadatan tanah dan pengaturan tektonik.


Kepala Teknologi untuk Mitigasi Bencana pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan penurunan tanah dapat dilihat di pusat kota, termasuk gedung BPPT, Sarinah dan di Jl. Sabang, baik di Jakarta Pusat. Cabang Jakarta Forum Lingkungan Hidup Indonesia pada tahun 2008 melakukan penelitian tentang bagaimana mempengaruhi degradasi tanah bangunan di Jakarta Pusat. Studi ini disebutkan di Djakarta Theater Sarinah, bekas kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (sekarang Dewan Pengawas pemilu kantor) dan Jaya dan gedung BPPT sebagai antara mereka yang terkena dampak. Juru bicara PT Sarinah M. Rusdy mengatakan bahwa perusahaan menyadari bahwa penurunan di sayap selatan tanah menyebabkan bangunan untuk miring.

"Tapi bangunan utama itu sendiri tidak lereng. [Ini hanya dapat dilihat] pada ekstensi dibangun di sisi selatan pernah menjadi pusat ATM, "katanya kepada Post. Rusdy mengatakan perusahaan telah merenovasi sayap dan pusat pindah ke gedung utama ATM. Dia mengatakan gedung masih struktural suara, dan bahwa perusahaan sering menyewa konsultan untuk mengaudit kondisi bangunan. Edi Santoso, Jaya manajer gedung, yang kini 40 tahun, mengatakan manajemen gedung tidak mengambil tindakan untuk mengatasi masalah ini. "Para insinyur tampaknya mengantisipasi kemungkinan bangunan Jakarta akan tenggelam, jadi dia membuat tangga ke halaman yang lebih tinggi dengan satu meter dari permukaan jalan. Namun, kesenjangan yang sekarang 50 inci, "katanya.

Teddy Gumay, petugas hubungan untuk penyewa gedung Djakarta Theater mengatakan penurunan tanah telah menyebabkan sayap selatan bangunan harus agak miring. "Tapi itu tidak mempengaruhi bangunan utama," katanya, menambahkan bahwa bangunan itu cukup kuat dan diperiksa oleh para ahli setiap tahun. "Stabilitas bangunan tidak akan terpengaruh banyak oleh tanah tenggelam Setidaknya tidak akan menyebabkan runtuhnya bangunan kecuali kejutan gempa kuat di Jakarta," katanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS